Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Saturday, December 5, 2015

Mush’ab bin Umair, Pendekar di Perang Uhud

KALIMAT-kalimatnya menyerbu hati orang-orang Anshar. Suaranya bak lentera yang mengusir kegelapan syirik. Dia adalah Mush’ab al-Khair, salah seorang pendekar keimanan.
Ia seorang pemuda Quraisy yang hidup manja dan mulia di tengah keluarganya. Dia menyatukan antara penampilan yang elok dan akal yang cemerlang. Apa yang dimakan dan dipakainya di pagi hari tidak sama dengan apa yang dimakan dan dipakainya di sore hari.
Kalimat-kalimat iman menembus telinganya dan bersemayam di hatinya, sehingga ia menyatakan keislamannya. Memasuki rumah Arqam dan menemui Rasulullah SAW secara sembunyi-sembunyi. Kemudian keluarganya mengetahuinya, sehingga mereka mengikat dan menahannya. Lalu di kabur bersama Muhajirin ke Habsyah, pulang ke Makkah, kemudian hijrah ke Madinah.
Dia berkulit lembut tidak tinggi dan tidak pendek. Dia adalah delegasi pertama dalam Islam, dan orang pertama yang mengumpulkan jamaah di Madinah.
Beliau meninggalkan kehidupan yang nikmat kepada kehidupan sederhana dan kemiskinan. Serta memakai pakaian paling kasar. Kezuhudannya memberikan kesan di hati orang-orang Anshar.
Suatu hari Nabi SAW duduk bersama para sahabat untuk menyirami hati mereka dengan tutur katanya. Dalam kondisi demikian datanglah Mush’ab bin Umair ra. dengan memakai pakaian bertambal sulam dan using. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau kasihan dan iba.
Kemudian Nabi SAW bersabda, “Lihatlah orang yang hatinya diterangi Allah ini! Dulu aku melihatnya di antara kedua orang tua yang menyuapinya dengan makanan dan minuman yang terbaik. Aku pernah melihatnya memakai pakaian yang dibelinya seharga dua ratus dirham. Lalu kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada rasul-Nya mengajaknya kembali kepada kondisi yang kalian lihat.”
***
Abdurrahman bin Auf pernah diberi makanan. Saat makanan itu ditaruh di depannya, dia menangis keras. Kemudian dia berkata sambil mengatur napas yang tersengal-sengal, “Mush’ab terbunuh pada perang Uhud, namun kami tidak menemukan kain untuk mengafaninya. Saat itu dia memakai namirah. Bila kami tutupi kepalanya, maka kedua kakinya tampak. Jika kami tutupi kakinya, maka kepalanya tampak. Lalu Nabi SAW menyuruh kami untuk menutupi kepalanya dengan pakaian itu, dan menutupi kedua kakinya dengan daun phon idzkhar”
Mush’ab adalah symbol keberanian dan pengorbanan. Dia memiliki dua tangan: satu tangan untuk membawa bendera dan satu tangan lainnya untuk menyabetkan pedang. Ketika perang Uhud dia membawa bendera dengan tangan kanannya.
Ketika tangan kanannya putus, maka dia membawanya dengan tangan kirinya. Ketika tangan kirinya putus, maka ia membawanya di antara dua lengannya pada dadanya. Lalu Ibnu Qami’ah menyerangnya dan menusuknya dengan tombak hingga tembus tubuhnya yang suci. Innalillahi.










Sumber: 100 Tokoh Zuhud/penulis: Muahammad Shidiq al-Misyawi/Penerbit: Senayan Publishing
READ MORE

Musa bin Nushair, Sang Pembebas Andalusia

MUNGKIN namanya masih asing di telinga sebagian kaum muslimin. Ia tidak setenar Shalahuddin al-Ayyubi pembebas al-Quds. Tidak pula sepopuler Sultan Muhammad al-Fatih sang penakluk Konstantinopel. Akan tetapi jasanya bagi kaum muslimin membuat namanya layak disejajarkan dengan dua pemimpin Islam tersebut dan juga pemimpin Islam lainnya.
Namanya barulah kita temukan ketika membaca sejarah pembebasan Andalusia, negeri Islam yang hilang. Musa bin Nushair. Dialah yang memilih panglima dari suku Barbar, Thariq bin Ziyad dan mengirimnya pada tahun 711 M untuk menyeberang ke Andalusia beserta 7000 pasukan.
Setibanya di negeri Andalus, pasukan Islam di bawah komando Thariq bin Ziyad mendarat di sebuah gunung yang hingga hari ini dikenal dengan Jabal Thariq (Gibraltar). Dari sinilah dimulai penaklukkan. Puncaknya, ketika Thariq beserta pasukannya bertemu dengan 100.000 pasukan Kristen yang dipimpin Raja Roderick di tepi Sungai Guadalete. Dengan semangat jihad yang berapi-api umat Islam berperang hingga sukses mengalahkan musuhnya. Roderick, Raja Kerajaan Goth yang congkak, menemui ajalnya dalam pertempuran tersebut.
Setelah mengalahkan pasukan Roderick, Thariq memasuki kota-kota penting di Andalusia. Jaen dapat didudukinya, Cordoba dapat dibebaskan, kota kuno Granada juga dapat diatasi, Malaga bernasib serupa. Bahkan Toledo, ibukota kerajaan Goth dapat dikuasai Thariq tanpa peperangan.
Pada tahun 712, Musa bin Nushair menyusul bawahannya yang setahun sblumnya tiba di Andalusia. Ia bersama pasukannya yang terdiri dari orang-orang Arab dan Barbar melakukan penaklukan terhadap kota-kota penting lain di Andalusia yang belum ditaklukkan oleh Thariq bin Ziyad seperti Ecija, Sevilla dan Merida.
Pada akhirnya Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad bertemu pada tahun 713. Keduanya bersama-sama menyempurnakan pembebasan sehingga hanya dalam waktu tiga tahun mereka dapat menguasai seluruh kota di Semenanjung Iberia tersebut, kecuali satu wilayah kecil di bagian utara yang kelak menjadi basis kekuatan Kristen dalam melakukan reconquista.
Musa bin Nushair memiliki cita-cita yang besar. Ia tidak puas dengan kesuksesannya membebaskan Andalusia. Di usianya yang telah menginjak 75 tahun, ia ingin masuk lebih jauh lagi yaitu menaklukkan Eropa. Tujuannya adalah Konstantinopel. Kota metropolitan yang menjadi pusat kekaisaran Byzantium. Kota yang menjadi cita-cita setiap pemimpin muslim agar menjadi pemimpin sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagai sebaik-baik pemimpin.
Sungguh kota Konstantinopel pasti akan ditaklukkan. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin. Pasukannya adalah sebaik-baik pasukan.
Musa ingin membebaskan kota yang dibangun oleh Kaisar Constantine itu melalui jalur Andalusia. Mula-mula ia ingin menaklukkan negeri terdekat Andalusia: Prancis, lalu negeri-negeri di sekitar Prancis, dan berakhir di Konstantinopel.
Namun, cita-cita besar nan mulia tersebut tinggal angan dan tak dapat ia wujudkan. Segera setelah mendengar rencana Musa bin Nushair, Khalifah al-Walid bin Abdul Malik memanggilnya kembali ke Damaskus. Khalifah merasa khawatir akan keselamatan gubernurnya beserta pasukan jika bersikeras untuk masuk ke negeri yang belum mereka kenal betul kondisinya.
Meski merasa berat hati, Musa bin Nushair tetap menaati Khalifah. Ia beserta bawahannya, panglima gagah perkasa, Thariq bin Ziyad pulang ke Damaskus dengan membawa kemenangan dan tentunya ghanimah yang melimpah. Urusan Andalusia selanjutnya ia serahkan kepada putranya, Abdul Aziz.

Musa bin Nushair, panglima pembebas Afrika Utara dan Andalusia. Semangat juang dan pengorbanannya bagi kejayaan Islam patut dicatat dengan tinta emas. Ia meninggal dalam perjalanan haji ke Baitullah pada tahun 718 M.

Oleh: Mahardy Purnama, Pemerhati Sejarah
READ MORE